Hutan dan Pentingnya Keseimbangan Ekosistem

Printer-friendly versionSend by email

HUTAN DAN PENTINGNYA KESEIMBANGAN EKOSISTEM
Oleh: Yudhi Munadi, MA

Air Sebagai Sumber Kehidupan

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir”. (QS. al-Ra’d: 4)

Untuk mendapatkan pemahaman secara utuh mengenai hutan dan pentingnya keseimbangan ekosistem, ada baiknya di sini diterangkan terlebih dahulu tentang asal mula kehidupan. Dalam membicarakan asal mula kehidupan, al-Qur’an menyebutkan sebagai berikut:
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. al-Anbiya’: 30)

Ayat di atas menerangkan bahwa setiap benda hidup diciptakan dari air sebagai bahan dasar, atau setiap benda hidup berasal dari air. Kedua arti tersebut sesuai dengan sains modern yang mengatakan bahwa kehidupan itu berasal dari air, atau air adalah bahan pertama untuk membentuk sel hidup.
Ada ayat yang cukup menarik untuk dikaji lebih saksama berkenaan dengan hasil penelitian para ilmuwan; ayat tersebut adalah:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.” (QS. al-Rum: 24)

Ayat ini telah membawa kita kepada pemahaman bahwa pada zaman purba, dengan bantuan petir terjadi reaksi secara spontan antara air atau uap air di udara dengan unsur nitrogen. Dari reaksi tersebut, terciptalah senyawa penyusun protein, yaitu asam amino, sebagai substansi dasar kehidupan di bumi. Dalam perkembangan sejarah makhluk hidup, hal ini dapat ditelusuri dari fosil yang ditemukan oleh para ahli geologi pada berbagai lapisan sedimen di dalam tanah. Fosil adalah sisa atau bekas jasad yang terpendam dalam lapisan sedimen tersebut. Masa pembentukan lapisan sedimen yang sama sekali tidak mengandung fosil dinamai masa azoikum. Di atas lapisan ini, menyusul lapisan batuan yang hanya mengandung bekas bentuk-bentuk hidup yang sangat sederhana, terutama tumbuh-tumbuhan tingkat rendah. Masa pembentukan sedimen itu dinamai masa proterozoikum (protero = mula). Lapisan yang mengandung banyak fosil binatang (Crustanceae, ikan, amphibian, reptilian, dan sebagainya) yang kini tidak terdapat lagi dalam bentuk hidup karena telah punah dinamai masa paleozoilkum (paleos = tua, kuno). Sesudah itu, datang satuan waktu (masa) yang dihuni oleh tumbuhan dan binatang yang mempunyai ciri bentuk-bentuk raksasa untuk reptilia darat yang kini telah punah; maa ini dinamakan mesozoikum (meso = tengah). Akhirnya, datang masa dengan sisa fosil yang menunjukkan permulaan pembentukan flora dan fauna yang sekarang. Dalam masa inilah terjadinya kebanyakan jenis binatang menyusui dan binatang lunak yang kini masih hidup; masa ini dinamai kinozoikum (koinos = baru). Masa adanya manusia di dunia ialah pada bagian kinozoikum yang terakhir. Masa ini oleh Garabay dinamai psichozoikum (psycho = mula-mula nafas, kemudian semangat, jiwa). Setiap masa dibagi lagi dalam beberapa zaman dan zaman dibagi lagi dalam beberapa kala.
Dari paparan di atas, dapat dipahami bahwa benda-benda hidup yang paling kuno adalah termasuk dalam alam tumbuh-tumbuhan, yakni dengan ditemukannya antara lain lumut yang berasal dari tanah yang tertua yang diketahui manusia. Demikian pula unsur-unsur alam binatang muncul kemudian.
Kembali pada surat al-Anbiya’: 30 di atas, yang dimaksud dengan air pada ayat tersebut dalam bahasa Arab adalah ma, yang berarti air hujan dan air laut (benda yang encer). Dalam arti pertama (air hujan), air merupakan unsur yang sangat perlu untuk kehidupan tetumbuhan. Hal ini dapat terlihat dalam al-Qur’an:
“Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (QS. Thaha: 53)

Ayat tersebut merupakan ayat yang untuk pertama kali menyebutkan adanya pasangan-pasangan dalam alam tumbuh-tumbuhan. Adapun arti kedua, yaitu ma sebagai benda cair (laut), menunjukkan dasar adanya semua binatang. Hal ini dapat dilihat dalam ayat:
“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al-Nur: 45)

Dengan demikian, asal mula kehidupan atau unsur yang menyebabkan munculnya tetumbuhan dan binatang di muka bumi di dalam al-Qur’an, sesuai dengan ilmu pengetahuan modern.
Setelah mendapatkan pemahaman tentang asal mula kehidupan seperti yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dimengerti bahwa semua benda hidup yang ada di alam makro yang sudah menjadi suatu sistem ini, berasal dari satu bentuk materi, yaitu air. Dalam sistem tersebut terjadi interaksi dalam hubungan keterikatan di antara makhluk hidup dengan lingkungannya untuk mempertahankan hidup. Bentuk interaksi ini menurut bahasa keilmuan disebut sebagai ekosistem.

Hutan Sebagai Bagian dari Ekosistem
Kusmana et.al (1995) dalam bukunya Ekologi Hutan menyebutkan bahwa ekosistem adalah suatu sistem di alam yang terdiri atas komponen makhluk hidup (biotik) dan komponen makhluk tak hidup (abiotik), yang di antara kedua komponen tersebut terjadi hubungan timbal balik untuk mempertahankan hidup. Oleh karena itu, hutan dapat dikatakan sebagai suatu ekosistem karena di dalamnya terdapat komponen biotik dan abiotik, yang di antaranya terjalin hubungan keterikatan.
Hutan adalah masyarakat tumbuhan yang didominasi oleh sekumpulan pohon yang menempati suatu tempat dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan lingkungan di luar hutan. Hutan merupakan suatu masyarakat tumbuhan yang kompleks, yang terdiri atas pohon, semak, tumbuhan bawah, jasad renik tanah, dan hewan, yang satu sama lain terikat dalam hubungan ketergantungan. Ekosistem hutan dibentuk oleh komponen abiotik, yaitu komponen fisik dan kimia dalam suatu lingkungan seperti tanah, air, udara, sinar matahari, dan lain-lain. Komponen yang kedua adalah komponen biotik yang terdiri atas produsen, konsumen dan pengurai.
1. Produsen ialah organisme autotrofik yang mampu mensintesis makanannya sendiri dari unsur-unsur hara (mineral) di dalam tanah dengan bantuan sinar matahari melalui proses fotosintesis; pada umumnya organisme ini berupa jenis tumbuhan yang mempunyai zat hijau daun.
2. Konsumen ialah organisme heterotrofik atau hewan yang sumber makannya diperoleh dari produsen.
3. Pengurai ialah hewan berukuran mikroskopik yang mampu menguraikan organisme mati menjadi unsur-unsur mineral penting yang dibutuhkan oleh produsen.
Komponen-komponen tersebut satu sma lain berinteraksi sesuai dengan ukuran dan kapasitasnya masing-masing untuk mencapai keseimbangan ekosistem. Hal tersebut difirmankan oleh Allah dalam ayat yang berbunyi:
“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”. (QS. Al-Hijr: 19)

Pandangan Islam tentang Tuhan ditentukan atas kesadaran yang luar biasa bahwa Tuhan adalah Maha Adil dan Bijaksana. Sifat Tuhan tersebut tercermin dalam keteraturan, keseimbangan, dan keserasian alam semesta. Hal ini juga tercermin pada cara Tuhan menempatkan segala sesuatu menurut ukuran-Nya seperti terungkap pada ayat di atas. Setiap manusia muslim memuji kebijaksanaan Tuhan dan menganggapnya sebagai perwujudan kasih Tuhan.
Untuk menjaga keseimbangan ekosistem tersebut, terjadi beberapa proses penting, di antaranya yaitu aliran energi, siklus hara, dan rantai makanan. Sesuai dengan Hukum Thermodinamika I, energi dapat dialirkan, maksudnya energi dapat diubah dari suatu bentuk ke bentuk lain, tetapi energi tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan. Aliran energi yang dimaksud yaitu perubahan bentuk energi yang terdapat dalam makhluk hidup dan lingkungannya menjadi energi lain, seperti energi mekanik, kimia, radiasi, dan kalor. Sumber energi utama berasal dari energi radiasi sinar matahari melalui proses fotosintesis.
Adapun siklus hara meliputi prombakan unsur atau senyawa mineral yang terdapat dalam tanah yang diserap oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis menjadi senyawa kompleks, yang selanjutnya dimanfaatkan oleh konsumen dan diubah menjadi senyawa yang lebih kompleks, dan kemudian dirombak oleh organisme pengurai yang mampu merombak senyawa kompleks tersebut menjadi unsur dan senyawa yang lebih sederhana untuk digunakan ulang oleh produsen.
Yang dimaksud dengan rantai makanan ialah sederetan proses memakan dan dimakan beberapa jenis organisme mulai dari tumbuhan, beberapa hewan, manusia, dan organisme pengurai. Hal demikian itu merupakan kebijaksanaan Allah untuk menciptakan keseimbangan di antara makhluk-makhluk-Nya. Semua unsur yang berguna bagi keseimbangan ekosistem tersebut telah dikaruniai Allah “rezeki” (energi dan makanan) sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada sisi lain, unsur-unsur tersebut diciptakan Allah untuk memenuhi kebutuhan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini.
“Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya”. (QS. Al-Hijr: 20)

Demikianlah beberapa proses penting tentang keseimbangan ekosistem, yang hal tersebut berjalan secara alamiah sesuai dengan sunnatullah seperti telah dikemukakan pada uraian terdahulu.
Al-Qur’an melukiskan adanya keseimbngan ekosistem dalam lingkup yang besar. Fenomena kausalitas merupakan bukti adanya keteraturan dalam perputaran setiap kejadian alam. Sebab-sebab perantara tertentu melahirkan kejadian beberapa peristiwa. Artinya, bahwa peristiwa tertentu terjadi karena adanya sebab tertentu pula.
Ayat berikut menjelaskan keteraturan tersebut:
“Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)”. (QS. Al-Nahl: 65)

“Dan dari buah kurma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan”. (QS. Al-Nahl: 67)

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya”. (QS. Al-Hijr: 22)

Demikian peranan penyebab perantara yang telah melahirkan kejadian atau sesuatu yang lain. Air hujan sebagai sebab hidupnya bumi; minuman yang berasal dari kurma dan anggur; dan angin yang telah mengawinkan tumbuh-tumbuhan. Fenomena ini ditampilkan Tuhan untuk menerangkan bahwa hukum-hukum pasti tertentu mengatur alam semesta ini. dalam hal semacam ini, setiap kejadian berlangsung pada tempatnya yang sudah pasti, yaitu setiap kejadian muncul di bawah sejumlah kondisi, pada waktu dan tempat yang sudah pasti. Ini tidak berarti bahwa kejadian itu bebas dari kehendak dan aturan Yang Maha Kuasa, tapi berarti bahwa di dalam sistem ini segala sesuatu itu terlaksana oleh kehendak Tuhan, yaitu mengikuti alur dan siklus khusus yang telah ditentukan.
Seperti telah disebutkan di atas, hutan merupakan salah satu dari sekian banyak ekosistem yang ada di muka bumi ini yang di antaranya adalah ekosistem padang rumput, gurun, antropogen (sawah, kebun, dll), ekosistem air tawar (kolam, danau, sungai, dll.), dan ekosistem lautan. Saling keterkaitan dan ketergantungan dari ekosistem-ekosistem itu membentuk ekosistem yang labih besar, yaitu ekosistem bumi. Maka, ketidakseimbangan suatu ekosistem akan mempengaruhi ekosistem itu sendiri dan ekosistem lain di sekitarnya. Misalnya, jika terjadi kebakaran hutan, yang mula-mula terbakar adalah serasahnya, kemudian api membakar pohon dan tanaman yang tumbuh di hutan itu. Pada umumnya pohon besar dan berkulit tebal mampu bertahan, tetapi tetumbuhan pohon besar dan berkulit tebal mampu bertahan, tetapi tetumbuhan kecil dan semak belukar musnah terbakar api. Struktur tanah hutan pun ikut rusak serta lapisan tanahnya menjadi terbuka; kemudian pada musim hujan berikutnya, air hujan akan mengikis butir-butir tanah yang halus (erosi) menjadi lumpur sungai yang mengendap di muara-muara. Dengan demikian, lumpur yang diakibatkan oleh erosi akan mencemari sungai dan laut. Pada akhirnya manusia pun ikut merasakan dampak tersebut.
Ketidakseimbangan yang terjadi dalam ekosistem hutan biasanya terjadi karena adanya beberapa jenis gangguan. Terdapat dua jenis gangguan yang mungkin terjadi yaitu gangguan alam dan buatan. Gangguan alam di antaranya bencana alam longsor, hama dan penyakit, gempa bumi, kebakaran yang terjadi secara alami, dan gelombang pasang air laut. Adapun gangguan buatan ialah jenis gangguan yang disebabkan oleh aktivitas manusia, yaitu kebakaran disengaja atau karena kelalaian, penebangan, perladangan, pemukiman, industri, pencemaran, dan lain-lain. Semua jenis gangguan tersebut akan berakibat pada berubahnya struktur dan fungsi ekosistem yang ada di dalam hutan; selain itu lingkungan sekitar akan terkena dampaknya pula. Beberapa akibat gangguan tersebut di antaranya adalah terganggunya kehidupan satwa liar di dalam hutan atau bahkan mencapai proses kepunahan, perubahan iklim mikro, bahaya erosi dan banjir ketika datangnya musim hujan yang berakibat berkurangnya tingkat kesuburan tanah hutan itu sendiri dan banjir yang dapat dirasakan pula oleh masyarakat sekitar hutan, fungsi hidrologis hutan terganggu sehingga penduduk sekitar hutan akan merasakan kekeringan pada musim kemarau, berubahnya dominasi jenis tanaman tertentu yang menyebabkan berubahnya pola keanekaragaman hutan itu sendiri, misalnya akibat kebakaran hutan biasanya lahan didominasi oleh alang-alang dan semak belukar dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk kembali lagi menjadi hutan.
Dengan demikian, ketidak-seimbangan ekosistem mempunyai dampak yang sangat buruk bagi perkembangan hutan itu sendiri dan lingkungan di sekitarnya atau bahkan akan mengancam kehidupan manusia. Oleh karena itu, keseimbangan ekosistem akan senantiasa terjaga, apabila pembangunan atas pengelolaan hutan dilaksanakan secara rasional. Dalam berbagai peraturan mengenai pengelolaan dibidang kehutanan perlu ditekankan untuk menjaga serta memelihara keseimbangan ekosistem hutan yang ada. Di samping itu, rancangan pengelolaan hutan pun harus didasarkan pada data dan informasi lapangan secara nyata yang dianalisis melalui proses pemikiran yang kritis, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi hasil-hasilnya dengan penalaran yang sehat untuk mencapai kesimpulan yang rasional. Pentingnya peranan pemikiran yang kritis dan penalaran yang rasional untuk mengungkap fenomena alam semesta ditekankan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:
“Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, kurma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (Nya)”. (QS. Al-Nahl: 11-12)

Alam semesta dan semua proses di dalamnya yang ada pada kedua ayat tersebut di atas dikatakan sebagai tanda-tanda kebesaran Allah, yang oleh para ahli tentang alam dinamakan sebagai hukum alam. Bagi ilmuwan muslim, hukum alam itu tiada lain seperti yang telah diutarakan di muka adalah peraturan Allah (sunnatullah) yang diberlakukan pada alam semesta sesaat setelah ia diciptakan untuk diikutinya. Demikianlah gambaran tentang alam dan proses-proses yang terjadi di dalamnya yang diungkapkan al-Qur’an, dan dalam bahasanya yang khas ia memotivasi manusia agar senantiasa berpikir kritis untuk mengungkap fenomena alam semesta ini.
Bila kita memahami kehutanan, kita akan mengetahui bagaimana hutan bertingkah laku pada kondisi tertentu, kita dapat meramalkan bagaimana ia memberikan respons, atau bereaksi terhadap tindakan yang kita lakukan terhadapnya. Dengan pengetahuan yang dimiliki, kita dapat menimbulkan kondisi yang kita pilih sedemikian rupa sehingga hutan memberikan respons yang menguntungkan. Apabila kondisi hutan terjaga, hutan akan memberikan beribu-ribu manfaat. Di antaranya, hutan member kepada kita kebutuhan akan sandang, pangan dan papan, hutan dapat menjadi sumber tanaman obat yang masih belum semua tergali, hutan merupakan sumber pengetahuan, hutan merupakan sarana pendidikan.
Keberadaan hutan mempunyai arti yang sangat penting. Bagi kalangan pemerhati dan ahli lingkungan hidup, tidak asing lagi akan pentingnya menjaga kelestarian hutan. Hutan bukan hanya sekedar sumber daya yang menabung dan mengembangkan informasi genetik yang tak ternilai. Ia (hutan) juga berfungsi sebagai penentu bagi perlindungan ruang hidup manusia dan bagi dasar alamiah kegiatan perekonomian manusia. Salah satu sifat utamanya berkaitan dengan neraca air dan daur hidrologis.

(Tulisan ini diterbitkan dalam buku Pembangunan Hutan Berkelanjutan Cerminan Iman dan Taqwa, terbitan Departemen Kehutanan dan Perkebunan, 1999, kerjasama dengan Asosiasi Panel Kayu Indonesia/APKINDO)